Membangun Peradaban SBT Berbasis Sumber Daya Alam

Ketua DPRD Agil Rumakat Bicara Soal Potensi SBT

BULA –Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) terbentuk pada tahun 2003. Dibangun dari nol, dalam masa 13 tahun, kabupaten bertajuk Ita Wotu Nusa dengan jumlah penduduk 130 ribu jiwa berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Capil SBT periode Januari 2017,  kini boleh berbangga karena sudah bisa berdiri sejajar dengan kabupaten kota lain di Maluku, walaupunmasih ada sebagian wilayah terisolir.

Sebelum terlepas dari kabupaten induk Maluku Tengah, potret kehidupan masyarakat pesisir di semenanjung Seram Bagian Timur sebagian besar masih tertinggal dan terbelakang akibat dari minimnya sentuhan pembangunan. Setelah dimekarkan, satu persatu kebutuhan dasar  diurai dengan membangun infrastruktur jalan, dermaga dan ekonomi hingga SBT boleh berdiri sejajar dengan kabupaten kota lain seperti sekarang.

Ketua DPRD SBT Agil Rumakat adalah salah satu pelaku sejarah yang ikut berperan dalam membangun peradaban negeri, mulai dari era Penjabat Bupati Hi. A.G Wokanubun, Bupati Abdullah Vanath sampai Bupati Abdul Mukti Keliobas. Melalui kursi legislatif, tokoh muda Seram Timur ini, ikut berkiprah membangun negeri Ita Wotu Nusa sesuai dengan tugas dan fungsi kedewanan.

Di mata Agil Rumakat, masyarakat Kabupaten SBT tak pantas hidup dalam kemiskinan karena memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Sumber daya alam yang menjanjikan seperti perikanan, pertanian, kehutanan, perkebunan, pariwisata, serta energi dan mineral, merupakan sumber kemakmuran rakyat.

Namun akibat dari belum tereksplornya semua kekayaan alam tersebut secara maksimal, Kabupaten SBT masih bertahan di peringkat ketiga kabupaten termiskin di Maluku dengan populasi penduduk miskin sekitar 20 persen. Tingkat kemiskinan yang masih tinggi ini sebagian disumbang pemerintah pusat dengan mendatangkan orang miskin berlabel transmigrasi.

Saatnya sekarang kita berbenah, kita tidak boleh lagi masuk dalam kategori kabupaten miskin ketiga di Maluku karena kita punya potensi sumber daya alam yang luar biasa, Banyak hal yang harus kita lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegas Rumakat kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (15/03/2017).

Dijelaskan Rumakat, potensi sumber daya perikanan di Kabupaten SBT tersebar dalam jumlah melimpah di seluruh wilayah, namun belum dieksplore secara maksimal. Yang terjadi, justru daerah lain seperti Sulawesi Utara mengambil keuntungan dari kekayaan laut SBT dengan mengkomersilkan hasil-hasil laut yang ditangkap di sini.

Pemerintah pusat tidak akan mendatangkan warga transmigran kalau SBT tidak punya potensi pertanian,” ujar Rumakat”. Namun yang membuatnya kesal, transmigran yang didatangkan gagal mempersembahkan swasembada beras untuk masyarakat lokal selain menambah angka kemiskinan.

Di bidang kehutanan, menurut orang nomor satu di gedung parlemen SBT, sumber daya hutan dan kayu di bumi Gumumae sebenarnya sangat melimpah. Namun akibat dari kegiatan HPH dan illegal logging di masa lalu, hutan-hutan pesisir di Bula, Teluk Waru, Seram Timur, Kilimury dan Werinama musnah dengan meninggalkan kerusakan lingkungan.

“Kalau bicara potensi sumber daya energi dan mineral, kita di SBT sudah terkenal dari dulu. Belakangan ini kan baru muncul  Blok Masela, tapi itu gas bukan migas seperti yang terdapat di Blok Bula (Kalrez) dan Blok Non Bula (Citic). Kita juga punya potensi nikel di Watubela, emas di Kilmury dan Marmer di Gunung Salagor Lian Fitu tapi belum dieksplore,” urai Rumakat.

Yang tak kalah menggiurkan, tambah Rumakat, adalah potensi pariwisata, khususnya wisata alam dan wisata bahari.  “Kita harus bangga dengan Danau Sole karena pernah dikunjungi penyanyi legendaris dunia Mick Jagger,” ingat Rumakat.

Menurutnya, selain Danau Sole, hampir semua wilayah pesisir di semenanjung Seram Bagian Timur memiliki panorama alam yang menarik  dan menjanjikan industri wisata. Namun yang lebih menggiurkan adalah potensi wisata di pulau-pulau kecil yang terurai di kaki pulau Seram, mulai dari perairan Geser sampai ke Gorom – Wakate.

“Kita punya daerah konservasi Pulau Koon, di mana menurut WW, Koon adalah satu-satunya daerah reproduksi ikan Kerapu terbaik dan terbesar di kawasan Indonesia timur melebihi Raja Ampat dan Banda, kita juga punya Bays dll,” imbuh Rumakat.

Ditambahkan, DPRD SBT pada prinsipnya selalu mensupport pemerintah daerah untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Namun, tantangan yang dihadapi pemerintahan Abdul Mukti Keliobas – Fahry Husni Alkatiri dalam mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat tidak sedikit, karena bergantung juga pada kapasitas sumber daya aparatur.

“Bicara SDM di sini, jujur saja, saya juga malu, karena tidak sedikit yang diposisikan sesuai dengan disiplin ilmu dan latar belakang pendidikan. Jadi, kalau nanti suatu saat pemda  mengambil kebijakan dengan memposisikan jabatan sesuai dengan latar belakang pendidikan, masyarakat harus menerima itu karena jabatan itu memang harus diberikan kepada ahlinya,” tukas Rumakat.

 

PROMOSI POTENSI

Menurut Rumakat, untuk mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam sebagai sumber kemakmuran rakyat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) SBT dibawah pimpinan Bupati Abdul Mukti Keliobas – Fahry Husni Alkatiri harus membuat gebrakan-gebtrakan dengan  mengambil langkah-langkah konstruktif yang dianggap penting.

“Tapi pola berpikir kita harus dirubah dulu. Artinya bahwa pemerintahan sekarang ini bukanlah pemerintahan yang mencari-cari kesalahan pemerintahan sebelumnya, tapi pemerintahan yang memperbaiki apa yang harus diperbaiki, melanjutkan apa yang harus dilanjutkan dan  melakukan sesuatu yang baru untuk rakyat,” tegas Rumakat.

Jika sebelumnya pemerintahan yang lalu kurang agresif mempromosikan potensi daerah ke dunia luar, maka pemerintahan yang sekarang harus gencar mempromosikan potensi daerah melalui media-media sosial, event-event bergengsi, serta pameran pembangunan berskala nasional dan internasional.

“Dulu kita punya website pemda, tapi sekarang macet mungkin karena kekurangan anggaran. Ini yang harus dibenahi. Kita harus rajin mengikuti expo-expo dan pameran di Jakarta. Semua event harus dimanfaatkan oleh pemda melalui SKPD terkait,” ingat Rumakat.

Yang tak kalah penting, sambung ketua dewan, pimpinan SKPD di lingkup Pemkab SBT dituntut harus kreatif. “Saya sudah sampaikan ke Bupati, bahwa pembantu Bupati atau pimpinan SKPD itu jangan diberikan uang cash untuk belanja pembangunan, berikan mereka  stimulus untuk berkoordinasi dengan pusat, tantangan kita sekarang bagaimana pimpinan SKPD bisa mendatangkan dana talangan untuk daerah dalam jumlah yang besar, daerah lain bias, kenapa kita tidak bisa,” sergah Rumakat.

Dengan menggencarkan promosi untuk menarik minat investasi dibarengi dengan kreativitas SKPD dalam memaksimalkan pengelolaan sumber daya alam, Rumakat yakin Kabupaten SBT akan menjadi mercusuar di belahan Pulau Seram. Yang pasti, membangun SBT yang baru berusia tiga belas tahun, tidak seperti menanam jagung yang hanya butuh waktu 3 bulan untuk  dipanen.  Membangun SBT butuh proses dan komitmen untuk berubah menuju peradaban madani. (AL)